ApoBroeNews.Biz.id -- Manca Negara,Kekecewaan menyelimuti Reza Pahlavi setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan sebuah jeda yang justru dinilainya memperpanjang umur rezim yang ia tentang. Dalam wawancaranya dengan LCI, Pahlavi menegaskan bahwa perjuangan rakyat Iran tidak pernah berubah.
Dirinya pun Ingin membebaskan diri dari sistem yang telah berkuasa sejak Revolusi Iran 1979. Pernyataan itu muncul di tengah situasi panas pasca konflik terbuka antara Israel, Washington, dan Teheran, yang sejak 28 Februari memicu ketegangan global sekaligus membuka kembali wacana perubahan kekuasaan di Iran.
Namun, alih-alih melihat tanda-tanda “perubahan rezim” seperti yang diklaim Donald Trump,Pahlavi justru menilai realitas di lapangan jauh berbeda. Menurutnya, struktur kekuasaan inti masih utuh parlemen,lembaga peradilan, hingga lingkaran elite tetap diisi oleh figur yang sama, bahkan setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan hari pertama.“Ini bukan perubahan rezim,”Tegasnya,Seraya menyindir klaim kemenangan politik yang dianggap terlalu dini. Baginya, pergantian figur tanpa perubahan sistem hanyalah ilusi stabilitas di tengah tekanan.
Courtesy of berbagai sumber Di sisi lain, posisi Pahlavi sendiri tidak sepenuhnya solid. Meski mendapat dukungan dari sebagian diaspora dan demonstran pro-monarki di berbagai kota dunia, ia tetap menjadi salah satu dari banyak suara oposisi Iran yang terfragmentasi. Bahkan, kedekatannya dengan Washington belum berbuah pengakuan resmi Trump sendiri belum pernah secara formal bertemu dengannya, dan masih meragukan kapasitasnya untuk memimpin transisi kekuasaan jika rezim benar-benar runtuh.
Dalam pidato terbarunya yang disiarkan melalui YouTube,Pahlavi mencoba membakar semangat rakyat Iran.Ia mengakui gencatan senjata menjadi pukulan moral bagi para pendukung perubahan, tetapi menegaskan bahwa rezim saat ini telah melemah secara signifikan. Dengan nada optimistis,
ia menyebut kejatuhan Republik Islam hanya tinggal menunggu waktu dan berada di tangan rakyatnya sendiri. Pernyataan itu menutup dengan seruan tegas: pukulan terakhir harus datang dari dalam negeri,bukan dari intervensi luar.
Kini, pertanyaan besarnya adalah: apakah momentum ini akan benar-benar dimanfaatkan oleh rakyat Iran,atau justru kembali menguap seperti gelombang protes sebelumnya? Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tarik-menarik kepentingan global, masa depan Iran tampak semakin berada di persimpangan antara perubahan yang dijanjikan, atau status quo yang terus bertahan.
Liputan:*E'en Nst --Tim Redaksi Media-C45T*
