Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
EUR to USD: 1.18122 +0.00170 (+0.14%) GBP to USD: 1.27450 +0.00230 (+0.18%) USD to JPY: 149.23 -0.15 (-0.10%) AUD to USD: 0.66890 +0.00050 (+0.07%) USD to CAD: 1.35670 -0.00080 (-0.06%) USD to CHF: 0.88340 -0.00030 (-0.03%) CNY to USD: 0.13860 +0.00010 (+0.07%) INR to USD: 0.01200 +0.00002 (+0.17%) IDR to USD: 0.000065 +0.0000001 (+0.15%) SGD to USD: 0.74230 +0.00040 (+0.05%) MYR to USD: 0.21450 +0.00020 (+0.09%) THB to USD: 0.02830 +0.00003 (+0.11%) VND to USD: 0.000042 +0.00000005 (+0.12%) KRW to USD: 0.000750 +0.000001 (+0.13%) BRL to USD: 0.19230 +0.00030 (+0.16%) MXN to USD: 0.05890 +0.00010 (+0.17%) RUB to USD: 0.01090 +0.00002 (+0.18%) ZAR to USD: 0.05340 +0.00004 (+0.08%) AED to USD: 0.27230 +0.00001 (+0.004%) SAR to USD: 0.26670 +0.00001 (+0.004%) TRY to USD: 0.03120 +0.00005 (+0.16%)

“PUBLIK Mulai TERKEJUT dengan HARGA ASLI PERTALITE”Tiba-tiba RAKYAT Menyadari Naik!!!!

ApoBroeNews.Biz.id --- Jakarta,Jagat media sosial mendadak ramai setelah beredar struk pembelian BBM yang memperlihatkan harga keekonomian Pertalite disebut mencapai Rp16.088 per liter. Angka itu langsung memicu perdebatan publik karena masyarakat selama ini membeli Pertalite di harga Rp10 ribu per liter berkat subsidi pemerintah.

Polemik makin panas ketika publik mulai membandingkan harga tersebut dengan Pertamax yang saat ini dijual sekitar Rp12.300 per liter.Banyak warganet mempertanyakan bagaimana mungkin BBM dengan oktan lebih rendah justru memiliki harga keekonomian lebih mahal dibanding Pertamax.Pada Hari Senin(11/05/2026).

Menanggapi polemik itu,Pertamina menjelaskan bahwa Pertalite merupakan BBM subsidi atau Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP),Sehingga mendapat intervensi harga dari pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat.

Sementara Pertamax disebut bukan murni mengikuti harga pasar penuh karena juga masih mendapat penyesuaian harga tertentu dari Pertamina dan pemerintah.

Sejumlah pengamat energi ikut menyoroti polemik tersebut.Guru Besar ITB Tri Yuswidjajanto Zaenuri menjelaskan bahwa selisih harga antar-BBM sebenarnya tidak terlalu jauh secara teknis. 

Namun menurutnya,ada strategi bisnis dan kebijakan subsidi yang membuat harga Pertamax tetap kompetitif agar pengguna Pertalite perlahan beralih ke BBM dengan kualitas lebih tinggi.

Di sisi lain,muncul pula desakan agar pemerintah lebih transparan membuka formula harga keekonomian BBM subsidi. Beberapa pihak menilai masyarakat perlu mengetahui secara rinci bagaimana struktur subsidi dan perhitungan harga BBM dilakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan di ruang publik.

Polemik ini akhirnya berkembang bukan hanya soal harga BBM,Tetapi juga menyentuh kepada kepentingan seluruh Rakyat Indonesia Yakni isu subsidi negara.

Aneh nya yang di lakukan bukan hanya transparansi kebijakan energi,dan beban APBN dalam menjaga harga bahan bakar tetap murah di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Liputan:*E'en Nst-Tim Redaksi Media-C45T*

Baca Juga
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak