Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
EUR to USD: 1.18122 +0.00170 (+0.14%) GBP to USD: 1.27450 +0.00230 (+0.18%) USD to JPY: 149.23 -0.15 (-0.10%) AUD to USD: 0.66890 +0.00050 (+0.07%) USD to CAD: 1.35670 -0.00080 (-0.06%) USD to CHF: 0.88340 -0.00030 (-0.03%) CNY to USD: 0.13860 +0.00010 (+0.07%) INR to USD: 0.01200 +0.00002 (+0.17%) IDR to USD: 0.000065 +0.0000001 (+0.15%) SGD to USD: 0.74230 +0.00040 (+0.05%) MYR to USD: 0.21450 +0.00020 (+0.09%) THB to USD: 0.02830 +0.00003 (+0.11%) VND to USD: 0.000042 +0.00000005 (+0.12%) KRW to USD: 0.000750 +0.000001 (+0.13%) BRL to USD: 0.19230 +0.00030 (+0.16%) MXN to USD: 0.05890 +0.00010 (+0.17%) RUB to USD: 0.01090 +0.00002 (+0.18%) ZAR to USD: 0.05340 +0.00004 (+0.08%) AED to USD: 0.27230 +0.00001 (+0.004%) SAR to USD: 0.26670 +0.00001 (+0.004%) TRY to USD: 0.03120 +0.00005 (+0.16%)

Celotehan Dedi Mulyadi Menuai Polemik melecehkan Pers dan juga mencederai profesi Jurnalis

 

Jakarta/Bekasi — ApoBroeNews.Biz.id,Sejumlah Ratusan wartawan dan pimpinan media dari Kota dan Kabupaten Bekasi berikut juga Seluruh Indonesia Sepakat bersatu padu menyatakan sikap bersama dalam Dialog Pers yang digelar di Saung Jajaka,Tambun Utara,Kamis (3/7/2025)

Dalam Suara Pers Bersama dan Sepakat menggelar'Secara Spontan bersuara Menjaga Citra Profesi Jurnalis dengan momen bertajuk “Pers Menjaga Marwah dalam Tantangan Zaman dan Era Digital” itu diinisiasi oleh gabungan organisasi profesi wartawan dan media,seperti PWI, SMSI, AWIBB, IWO,serta didukung tokoh masyarakat dan ormas se-Bekasi Raya.

Dialog Secara Tegas terbuka Umum ini menjadi respons atas pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi,yang Berceloteh Narasi Asal Sebut Sempat Menuai kontradiksi Marah dan Geram di kalangan Profesi Jurnalis dalam hal menyebut bahwa ",media sosial lebih penting dibanding media massa",dan menyarankan agar pemerintah tidak perlu lagi menjalin kerja sama dengan media",Secara Resmi di utarakan nya di muka umum.

Akibat Narasi itu, Semua Insan Pers Geram dan marah besar,Jelas Melecehkan serta Melukai Citra Profesi Jurnalis,Pers atau Wartawan,maka secara Tegas Menampik hal Celotehan dari Dedi Mulyadi yang sering di sapa KDM menuai Polemik baru yang muncul Kontraversi di kalangan sejumlah Profesi Jurnalis yang sering di sapa Kuli Tinta tersebut.

Spontan Kalimat dari Celotehan Dedi Mulyadi membuat geram Sejumlah Insan Pers Seluruh Indonesia termasuk kalimat Sorotan tajam Publik,Hal ini langsung di Tanggapi oleh Ketua PWI Bekasi Raya,Ade Muksin,S.H.,Yang menegaskan bahwa pernyataan tersebut sangat disayangkan karena dapat menyesatkan persepsi publik dan melemahkan peran strategis media profesional dalam kehidupan berdemokrasi.

“Kalau media dianggap tidak penting,siapa lagi yang menyuarakan kepentingan rakyat? Jangan sampai demokrasi kita dibajak oleh algoritma tanpa etika,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua SMSI Kabupaten Bekasi,Doni Ardon,yang menegaskan pentingnya kemitraan antara pemerintah dan media sebagai bagian dari transparansi dan pelayanan publik yang akuntabel.

Kemudian terkait Celotehan Dedi Mulyadi Semakin memanas di Dunia Profesi Jurnalis,Pers atau Wartawan dengan menentang keras ucapan Merusak Demokrasi Indonesia,Seluruh Insan PERS membantah Kalimat Atau celotehan itu bernuansa merusak Citra Nama Baik Jurnalis Seluruh Indonesia,maka dari itu hal tersebut menjadi Pernyataan Sikap Insan Pers di Bekasi Raya:

1. Menolak segala bentuk peremehan terhadap media massa, karena bertentangan dengan semangat konstitusi dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

2. Menuntut klarifikasi resmi dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi(KDM)atas pernyataan yang dinilai merendahkan martabat pers profesional.

3. Menegaskan pentingnya kemitraan strategis antara media dan pemerintah,bukan sekadar hubungan transaksional, melainkan kolaboratif untuk pelayanan publik.

4. Mendorong wartawan dan pemilik media untuk tetap profesional,kritis,dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

5. Mengajak masyarakat dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menjaga eksistensi media lokal sebagai pilar demokrasi yang tak tergantikan oleh viralitas media sosial.

Dalam spanduk besar acara tersebut tertulis jelas pesan-pesan perlawanan terhadap narasi yang merendahkan media,seperti: “Pers bukan buzzer, media bukan musuh pemerintah”,

“Tanpa verifikasi,asal viral”, dan “Apa jadinya kalau media dianggap tidak penting?”

Dialog Pers ini menjadi pengingat bahwa pers adalah simbol kebenaran informasi, bukan alat propaganda. Insan pers Bekasi Raya menyatakan akan terus menjaga marwah profesi di tengah tantangan zaman dan disrupsi digital.

“Kami tidak akan diam. Kami bersatu. Kami adalah penjaga demokrasi,” tegas para wartawan yang hadir. 

Liputan:*Tim Redaksi Media-C45T*

Baca Juga
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak